Langsung ke konten utama
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi"

PERMASALAHAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA : SEJARAH LOKAL [Materi IPS Kelas VII, Kurikulum Merdeka]



Keberagaman budaya di Indonesia telah dimulai pada saat yang sangat lama. Kondisi geografis Indonesia dengan keragaman kondisi fisik turut mewarnai keberagaman tersebut. Masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia selanjutnya memiliki tokoh panutan, yang setiap tindakannya dijadikan teladan. Dalam upaya untuk melestarikan budaya dan menjaga identitas daerah, penting untuk memahami sejarah lokal di suatu daerah. Berikut adalah beberapa tokoh sejarah yang berperan penting dalam kehidupan sosial budaya di Indonesia :

Sejarah Lokal

  • Sultan Nuku

Pada tahun 1780 seluruh daerah Maluku dan melibatkan Papua mengalami pergolakan dalam pergantian takhta di Kerajaan Tidore. Tokoh yang mempunyai peran sentral adalah Nuku bersama Kamaluddin, adiknya. Sultan Nuku dalam pertempurannya selalu menang melawan Belanda, hingga dia mendapat julukan "The Lord of Fortune". Tekadnya kuat untuk mengusir penjajah yang mengganggu rakyat Maluku dan Papua. Sultan Nuku bersatu dengan para raja di Papua untuk melawan penjajah. Mereka dengan gigih menghimpun kekuatan dan menyerang Belanda. Sukses besar ini merupakan perjuangan tanpa lelah dari Nuku dan para raja di Papua yang tidak mau dijajah Belanda. Pada akhirnya Sultan Nuku dapat mengamankan dan membawa suasana damai dan tenang di wilayah Maluku dan Papua dari penjajahan bangsa asing
.

  •  Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah pejuang perempuan dari Jepara yang hidup pada masa awal perkembangan Islam di Nusantara. Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana. Retna Kencana menggantikan peran suaminya sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara ditandai dengan sengkalan "Trus Karya Tataning Bumi" yang bertanggal 10 April 1549. Ratu Kalinyamat menjadi penguasa Jepara selama 30 tahun, yakni dari 1549-1579. Sejak resmi menjadi penguasa tunggal di Jepara, ia memberi perhatian besar pada bidang politik dan militer. Ratu Kalinyamat berhasil membangun kekuatan angkatan laut yang besar dan kuat, serta mengembangkan potensi kemaritiman yang dimiliki Jepara. Di bawah kekuasannya, Jepara menjadi kerajaan bahari di mana rakyatnya hidup tenteram dengan mengandalkan laut sebagai sumber utama penghidupannya. Berkat keberanian dan pemikiran besarnya, nama Ratu Nyamat meninggalkan kesan bagi beberapa bangsa Portugis. Diego de Conto, seorang penulis berkebangsaan Portugis, menjuluki Ratu Kalinyamat sebagai "Rainha de Jepara senhora Poderosa e ride", yang artinya Ratu Jepara seorang perempuan kaya dan mempunyai kekuasaan besar. Selain itu, ada pula yang menyebutnya sebagai "De Kranige Dame", yakni perempuan tangguh dan gagah berani yang tidak kenal takut. Setelah Ratu Kalinyamat meninggal pada 1579, penggantinya adalah salah satu putra angkatnya, yakni Pangeran Arya dari Banten, yang kemudian bergelar Pangeran Jepara.Laksamana Malahayati. Laksamana Malahayati, juga dikenal sebagai Keumalahayati, adalah seorang pahlawan wanita asal Aceh yang hidup pada abad ke-16 dan awal abad ke-17. Ia terkenal sebagai laksamana wanita pertama di dunia yang memimpin armada angkatan laut.

Keumalahayati lahir pada sekitar tahun 1550 di Kerajaan Aceh Darussalam. Ia berasal dari keluarga bangsawan; ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, dan kakeknya, Laksamana Muhammad Said Syah, keduanya adalah laksamana kerajaan.

Malahayati memulai karier militernya di akademi militer kerajaan, di mana ia menerima pelatihan ekstensif. Setelah lulus, ia menjadi komandan pasukan wanita yang disebut "Inong Balee," yang terdiri dari janda-janda prajurit yang gugur dalam perang. Pasukan ini menjadi terkenal karena keberanian dan keefektifannya dalam pertempuran laut.

Pada akhir abad ke-16, Aceh sering berhadapan dengan armada Portugis yang mencoba menguasai Selat Malaka. Malahayati menunjukkan keberanian dan keahlian taktisnya dalam berbagai pertempuran, termasuk dalam serangan terhadap benteng Portugis di Teluk Haru.

Pada tahun 1599, Malahayati memimpin pasukannya dalam pertempuran melawan Belanda di Selat Malaka. Salah satu pertempuran paling terkenal adalah ketika ia berduel dengan Cornelis de Houtman, seorang pelaut Belanda, dan berhasil membunuhnya. Kemenangan ini memperkuat posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang signifikan di kawasan tersebut.

Laksamana Malahayati adalah simbol keberanian dan kepemimpinan wanita dalam sejarah Indonesia. Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk, termasuk penamaan kapal perang TNI AL, KRI Malahayati, dan berbagai institusi pendidikan serta jalan. Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia secara resmi mengakui Malahayati sebagai Pahlawan Nasional atas kontribusinya dalam mempertahankan kedaulatan Aceh dan melawan penjajah asing.

Laksamana Malahayati meninggal pada tahun 1606, namun warisannya terus hidup sebagai inspirasi bagi generasi penerus, terutama dalam hal keberanian, keteguhan, dan kepemimpinan perempuan
.

  •  Syarif Abdurrahman

Syarif Abdurrahman adalah seorang tokoh penting dan pahlawan dalam sejarah Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Ia lahir pada tahun 1742 dari Syarif Husein, seorang bangsawan dari Kesultanan Brunei, dan seorang wanita Dayak, yang memberikan Abdurrahman warisan budaya yang beragam. Kepemimpinannya yang visioner dan keberaniannya dalam mendirikan dan mengembangkan Pontianak menjadikannya sosok yang dihormati dan dikenang sebagai pendiri kota tersebut.

Syarif Abdurrahman tumbuh dalam lingkungan yang menggabungkan tradisi Islam dan adat Dayak. Ayahnya, Syarif Husein, adalah seorang pemimpin dari Kesultanan Brunei yang memiliki pengaruh di wilayah Kalimantan, sementara ibunya berasal dari suku Dayak, memberinya pemahaman mendalam tentang budaya lokal. Kombinasi latar belakang ini memberikan Abdurrahman wawasan yang luas dan kemampuan untuk menjembatani berbagai tradisi dan budaya.

Pada tahun 1771, Syarif Abdurrahman memulai perjalanan menyusuri Sungai Kapuas bersama para pengikutnya. Mereka tiba di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, tempat yang dianggap strategis untuk mendirikan pemukiman baru. Legenda setempat menyatakan bahwa Abdurrahman memilih lokasi ini setelah berhasil mengusir gangguan makhluk gaib yang dikenal sebagai hantu pontianak, yang kemudian menginspirasi nama kota tersebut

Pada 23 Oktober 1771, Syarif Abdurrahman secara resmi mendirikan Kesultanan Pontianak dan dinobatkan sebagai sultan pertamanya. Di bawah kepemimpinannya, Pontianak berkembang pesat menjadi pusat perdagangan yang strategis di Kalimantan Barat. Letaknya yang berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Pontianak sebagai kota yang makmur dan penting bagi para pedagang dari berbagai belahan dunia.

Sebagai pemimpin, Syarif Abdurrahman menunjukkan keberanian dan kepemimpinan yang visioner. Ia memimpin berbagai proyek pembangunan penting, termasuk Keraton Kadariah dan Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman, yang menjadi pusat keagamaan dan pemerintahan di Pontianak. Keberanian dan kebijaksanaannya dalam menghadapi tantangan dan menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara seperti Belanda dan Inggris turut meningkatkan kemakmuran dan pengaruh Pontianak.

Warisan Sultan Syarif Abdurrahman tetap hidup di Pontianak hingga hari ini. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat budaya Melayu di Indonesia, dengan warisan budaya yang kaya termasuk tradisi, arsitektur, dan seni. Nama Sultan Syarif Abdurrahman diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, seperti nama jalan, institusi, dan acara-acara budaya. Keberaniannya dalam mendirikan dan mengembangkan Pontianak menjadikannya sosok yang dihormati dan diingat sebagai pahlawan pendiri kota.

Komentar

Popular Posts

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA

Dalam capaian pembelajaran fase D terbaru 2024 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat materi tentang pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Bencana. Dalam materi tersebut, diharapkan siswa memahami upaya bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional maupun global. Berikut uraian materi singkat terkait : SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi pada tahun 2015 sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs merupakan serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, SDGs mem-petakan pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SD...

Ikhtiar sederhana meraih ampunanNya

Gambar diambil dari Pixabay.com Dari Anas bin Malik ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : "Seluruh Bani Adam (Manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat" HR. At Tirmidzi : 2499) "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dansiang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka  minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian " (HR. Muslim) Terdapat satu do'a sederhana, jika kita mengamalkannya, akan mendatangkan ampunan dari Nya. Do'a tersebut dibaca setelah kita selesai membaca tasyahud seusai shalat.   Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin 'Amru Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu'allim dari Abdullah bin Buraidah dari Handlalah bin Ali bahwa Mihjan bin Al Adra' telah menceritakan kepadanya, katanya Mihjan; "Rasulullah shallallahu ...

Bersegeralah Sebelum Pintu itu Tertutup

  Oleh : Meylina Hidayanti “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua, kemudian pada waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya, kecuali Allah akan bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga”   [ HR. Al Baihaqi ] Di Yaman, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yatim, yang tak punya sanak famil i kecuali hanya ibunya yang telah tua renta, lumpuh dan dengan penglihatan yang telah kabur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, dan jika terdapat kelebihan rezeki, ia gunakan untuk membantu tetangganya yang kekurangan. Dia seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, kulitnya kemerah-merahan.Pakaiannya hanya dua helai sudah kusut, yang satu untuk penu...