Langsung ke konten utama
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi"

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA

Dalam capaian pembelajaran fase D terbaru 2024 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat materi tentang pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Bencana. Dalam materi tersebut, diharapkan siswa memahami upaya bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional maupun global. Berikut uraian materi singkat terkait :

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA



Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi pada tahun 2015 sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs merupakan serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2030.

Untuk mencapai tujuan tersebut, SDGs mem-petakan pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sebagai berikut :

1.    Tanpa Kemiskinan

2.    Tanpa Kelaparan

3.    Kehidupan Sehat dan Sejahtera

4.    Pendidikan Berkualitas

5.    Kesetaraan Gender

6.    Air Bersih dan Sanitasi Layak

7.    Energi Bersih dan Terjangkau

8.    Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

9.    Industri, Inovasi, dan Infrastruktur

10. Berkurangnya Kesenjangan

11. Kota dan Komunitas Berkelanjutan

12. Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

13. Penanganan Perubahan Iklim

14. Ekosistem Lautan

15. Ekosistem Daratan

16. Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh

17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

 

MITIGASI BENCANA

Mitigasi bencana merupakan upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana alam melalui berbagai tindakan pencegahan dan kesiapsiagaan. Penanggulangan bencana, merupakan  tantangan  pembangunan  yang  tidak  bisa dihindari di berbagai daerah. Setiap daerah, memiliki potensi bencana yang berbeda, sesuai dengan tipe, karakteristik dan potensi alam maupun buatan yang ada di wilayah tersebut. Penganggulangan bencana menjadi salah satu isu dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB/SDG’s).  


Dengan adanya fokus penanggulangan bencana, diharapkan resiko bencana yang ada di berbagai daerah dapat ditekan, dan diminimalisir. Dengan demikian mitigasi bencana berkontribusi pada pencapaian beberapa tujuan SDGs, seperti mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesehatan. Upaya mitigasi bencana membantu menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan sehingga mitigasi bencana membantu mencapai SDG 11 yang bertujuan untuk membuat kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan


Berdasarkan undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana bertujuan untuk :

- Memberikan perlindungan kepada masyarakta dari ancaman bencana

- Menyelaraskan terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, 

  terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh

- Menghargai budaya lokal

- Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta

- Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan

- Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan 

  bernegara


Jenis-jenis Bencana Alam

1.  Gempa Bumi

 Gempa bumi disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di bawah permukaan   bumi atau aktivitas vulkanik. Ketika lempeng-lempeng ini bergerak, energi yang   terkumpul dilepaskan dalam bentuk getaran. Adapun dampak dari bencana ini   adalah kerusakan bangunan, infrastruktur, dan jalan; korban jiwa dan luka-luka; tanah longsor yang dipicu oleh getaran.

Upaya Penanggulangan :

· Pembangunan Bangunan Tahan Gempa: Menggunakan teknologi dan bahan bangunan yang dapat menahan getaran gempa.

· Pendidikan Kesiapsiagaan: Melakukan latihan evakuasi dan pendidikan tentang tindakan yang harus diambil saat gempa terjadi.

 

2.  Tsunami

Tsunami biasanya disebabkan oleh gempa bumi bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, atau longsoran bawah laut yang menyebabkan perpindahan besar air laut. Adapun dampak dari tsunami diantaranya kerusakan pesisir, korban jiwa, kerusakan ekosistem laut, dan kehilangan mata pencaharian bagi masyarakat pesisir.

Upaya Penanggulangan :

· Menggunakan sensor dan teknologi untuk mendeteksi tsunami dan memberikan peringatan kepada masyarakat.

· Menyediakan jalur evakuasi dan melakukan latihan evakuasi secara rutin.

· Membangun tanggul dan struktur pelindung di sepanjang pantai.

 

3.  Banjir

Diantara penyebab terjadinya bencana banjir yaitu curah hujan tinggi, penggundulan hutan, sistem drainase yang buruk, dan perubahan aliran sungai. Adapun dampak dari benjana banjir diantaranya  kerusakan properti, penyakit yang disebabkan oleh air kotor, gangguan transportasi, dan kehilangan mata pencaharian.

Upaya Penanggulangan :

· Meningkatkan kapasitas drainase untuk mengalirkan air hujan dengan cepat.

· Melakukan penanaman kembali hutan untuk menyerap air hujan dan mencegah erosi.

· Membangun waduk dan bendungan untuk mengatur aliran air.

 

4.  Letusan Gunung Berapi

Letusan gunung api merupakan aktivitas magma di dalam bumi yang naik ke permukaan melalui celah-celah di kerak bumi. Luapan lahar dan abu vulkanik dari gunung berapi dapat merusak tanaman dan bangunan, serta gangguan kesehatan pernafasan.

Upaya Penanggulangan :

·    Dengan menetapkan zona aman di sekitar gunung berapi dan melarang pemukiman di daerah berbahaya.

·    Memantau aktivitas gunung berapi dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

·    Menyediakan jalur evakuasi dan tempat penampungan sementara.

 

5.  Tanah Longsor

Tanah langsor dapat diakibatkan karena adanya curah hujan tinggi, erosi, aktivitas manusia seperti penebangan hutan, dan getaran gempa bumi. Bencana tanah longsor mengakibatkan kerusakan properti, korban jiwa, dan gangguan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Upaya Penanggulangan:

· Penanaman Vegetasi, yaitu dengan menanam pohon dan tanaman untuk menahan tanah agar tidak   mudah longsor.

·  Pembangunan terasering di lereng bukit untuk mengurangi kecepatan aliran air.

·  Mengatur aliran air hujan agar tidak menyebabkan erosi.

 

6.  Angin Topan

Angin topan terjadi disebabkan adanya sistem tekanan rendah di lautan yang menyebabkan angin kencang dan badai. Angin topan mengakibatkan kerusakan bangunan, banjir, korban jiwa, dan gangguan transportasi.

Upaya Penanggulangan:

·    Pembangunan Bangunan Tahan Angin.

·    Memantau cuaca dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

·    Menyediakan jalur evakuasi dan tempat penampungan sementara.

Kontribusi Mitigasi Bencana terhadap SDGs

1)   SDG 1: Tanpa Kemiskinan

·   Mengurangi Kerugian Ekonomi

Bencana sering kali menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, terutama bagi masyarakat miskin. Mitigasi bencana membantu mengurangi kerugian ini dengan melindungi aset dan mata pencaharian masyarakat.

·   Meningkatkan Ketahanan Ekonomi

Dengan mengurangi dampak bencana, masyarakat dapat mempertahankan mata pencaharian mereka dan menghindari jatuh ke dalam kemiskinan.


2)   SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

·   Melindungi Kesehatan Masyarakat

Bencana dapat menyebabkan penyebaran penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Mitigasi bencana membantu melindungi kesehatan masyarakat dengan menyediakan layanan kesehatan yang aman dan tanggap darurat medis.

·   Meningkatkan Kesejahteraan

Dengan mengurangi dampak bencana, masyarakat dapat hidup dengan lebih aman dan sejahtera.


3)   SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan

·    Membangun Infrastruktur Tahan Bencana

Mitigasi bencana melibatkan pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap bencana, seperti bangunan tahan gempa dan sistem drainase yang baik. Ini membantu menciptakan kota dan komunitas yang lebih aman dan berkelanjutan.

·    Perencanaan Tata Ruang yang Baik

Mitigasi bencana juga melibatkan perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana, sehingga mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana.


4)   SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

·    Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Beberapa tindakan mitigasi bencana, seperti pembangunan infrastruktur hijau, dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi perubahan iklim.

·    Meningkatkan Ketahanan terhadap Perubahan Iklim

  Mitigasi bencana membantu masyarakat menjadi lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim,   seperti peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam.

Komentar

Popular Posts

Ikhtiar sederhana meraih ampunanNya

Gambar diambil dari Pixabay.com Dari Anas bin Malik ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : "Seluruh Bani Adam (Manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat" HR. At Tirmidzi : 2499) "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dansiang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka  minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian " (HR. Muslim) Terdapat satu do'a sederhana, jika kita mengamalkannya, akan mendatangkan ampunan dari Nya. Do'a tersebut dibaca setelah kita selesai membaca tasyahud seusai shalat.   Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin 'Amru Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu'allim dari Abdullah bin Buraidah dari Handlalah bin Ali bahwa Mihjan bin Al Adra' telah menceritakan kepadanya, katanya Mihjan; "Rasulullah shallallahu ...

Bersegeralah Sebelum Pintu itu Tertutup

  Oleh : Meylina Hidayanti “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua, kemudian pada waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya, kecuali Allah akan bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga”   [ HR. Al Baihaqi ] Di Yaman, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yatim, yang tak punya sanak famil i kecuali hanya ibunya yang telah tua renta, lumpuh dan dengan penglihatan yang telah kabur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, dan jika terdapat kelebihan rezeki, ia gunakan untuk membantu tetangganya yang kekurangan. Dia seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, kulitnya kemerah-merahan.Pakaiannya hanya dua helai sudah kusut, yang satu untuk penu...