Gambar : pixabay.com
Oleh : Meylina Hidayanti, S.E
Rasulullah
saw bersabda, ''Jibril selalu mewasiatkan
kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya'' [HR Bukhari-Muslim]
Di Kufah, Abu Hanifah memiliki seorang tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja, menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar. Selesai makan, ia minum-minum seraya bernyanyi-nyanyi dan berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk sekali, kemudian tertidur pulas.
Abu Hanifah yang telah terbiasa
melaksanakan shalat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh suara
nyanyian tukang sepatu tersebut. Namun, ia diam saja. Pada suatu malam,
Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya.
Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya, ternyata menurut keterangan tetangga
lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.
Seusai shalat subuh, Abu Hanifah
naik bighalnya menuju istana.Ia hendak menemui Amir Kufah. Kedatangan Abu
Hanifah disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang
berkenan menemuinya.
"Ada yang bisa aku bantu?"
tanya sang Amir.
"Tetanggaku tukang sepatu
kemarin ditangkap polisi.Tolong lepaskan ia dari tahanan Amir" jawab Abu
Hanifah.
"Baiklah" kata sang
Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu
Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik
bighalnya secara perlahan.Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di
belakangnya.Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada
tetangganya itu seraya berkata, "Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu
kan?"
"Tidak, bahkan sebaliknya"
jawab si tukang sepatu, "Terima kasih. Semoga Allah memberimu balasan
kebajikan" lanjut si tukang sepatu
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi
kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih khusyu' dalam ibadahnya
setiap malam.
Tembok Pembatas
Diera globalisasi, kini merupakan
sebuah hal biasa ketika setiap kita terlihat sibuk dalam kesehariannya, bahkan
terdapat sebuah ungkapan “pulang dan pergi seharian sehingga tak mampu
melihat matahari terbit dan tenggelam”. Tingginya tingkat egoisme,
individualisme dan hedonisme mengakibatkan terciptanya “tembok pembatas” dalam
bermasyarakat.Adakalanya “tembok
pembatas” dalam bermasyarakat mulai timbul dikarenakan kurangnya intensitas
bersosialisasi dalam bermasyarakat.Padatnya aktifitas dan besarnya peranan kita
dalam sebuah institusi ataupun organisasi, tak jarang menjadikan sedikitnya
waktu untuk bersosialisasi dalam bermasyarakat. Dalam hal ini, Rasulullah saw
telah mengingatkan umatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi,
Rasulullah saw menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian
kebaikan seseorang. ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik
(budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling
baik kepada tetangganya'' , Dan Allahpun berfiman dalam QS.An Nissa’:36,
“Berbuat baiklah kepada kedua orang, ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu
sabil, dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong
dan membangga-banggakan diri''.
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas”,
sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang
lain. Manusia bukan sekedar makhluk indvidu, melainkan manusia adalah makhluk
sosial,
yang mana segala yang ada dalam dirinya berpotensi membawa pengaruh
terhadap lingkungan disekitarnya. Menjadi manusia bermanfaat disini tidaklah
sekedar bermanfaat bagi institusinya, golongannya ataupun organisasinya,
melainkan meliputi seluruh aspek kehidupan dalam bermasyarakat pada umumnya.
"Menjadi
ada adalah karunia, sebab kita tidak dapat mengadakan diri kita sendiri. Tapi
menjadi ada saja tidaklah cukup, kita ada karena diperintahkan untuk memiliki
makna" [Ahmad Zairofi]
Sebagaimana kisah Abu Hanifah yang
tetap menebarkan kebaikan terhadap tetangganya dengan membantunya mendapatkan
ampunan dari sang amir hingga menjadikan si tukang sepatu tersadar dan tidak
mengulangi kebiasaan buruknya. Sebagaimana pula kisah khalifah umar yang begitu
memperhatikan kondisi masyarakat disekitarnya, hingga rela menggendong karung
gandum seorang diri guna membantu kekurangan tetangga disekitarnya.
Islam memerintahkan umatnya untuk
bertetangga secara baik. Bahkan, Rasulullah saw pernah mengira tetangga
termasuk dalam ahli waris, dikarenakan seringnya Jibril mewasiatkan agar
bertetangga dengan baik. Rasulullah saw bersabda, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku
menyangka bahwa ia akan mewarisinya'' [HR
Bukhari-Muslim].
Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam
selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik
itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya,
menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur
maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu'' [HR. Muslim]
Dan dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari, terdapat seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman...!''. Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya” Rasulullah saw bersabda, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya''
(HR Bukhari-Muslim)

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media