Oleh : Meylina Hidayanti
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan
seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari
kiamat. Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan
memudahkan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang
muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah
senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya” [HR.
Muslim]
Di
pagi itu Rasulullah saw terlihat begitu sibuk memperhatikan dengan cermat baju
satu-satunya yang mulai usang dan sudah waktunya untuk diganti. Dengan rizki
dariNya sebesar delapan dirham, Rasulullah saw melangkah menuju ke pasar. Dalam
perjalanannya, beliau bertemu dengan seorang wanita yang menangis dikarenakan
kehilangan uang. Beliau
pun berhenti sejenak untuk memberikan uangnya sebanyak dua dirham kepada wanita
tersebut, dan kemudian Rasulullah saw pun kembali melanjutkan perjalanannya
menuju ke pasar.
Setibanya ditempat yang dituju, beliau membeli sepasang baju dengan harga empat dirham, seusai membeli baju beliau bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah saw langsung memberikan baju yang baru dibelinya. Dikarenakan baju barunya telah diberikan kepada seorang tua tersebut, Rasulullah saw kembali menuju ke pasar untuk membeli baju lagi seharga dua dirham, sebab uang yang tersisa hanya dua dirham, dengan gembira beliau pun pulang membawa baju baru tersebut.
Langkah Rasulullah saw semakin cepat, karena beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak lama melangkah ke luar pasar, beliau bertemu lagi dengan wanita yang menangis tadi. Wanita tersebut nampak bingung dan gelisah. Rasulullah saw pun mendekat dan bertanya kepadanya. Ternyata wanita tersebut takut dimarahi majikannya jika pulang karena dia telah terlambat dari batas waktu. Dengan penuh kasih, Rasulullah saw menyatakan akan mengantarkannya pulang ke rumah majikannya.
Wanita itu pun berjalan dengan diikuti Rasulullah saw. Hatinya tenang karena Rasulullah saw pasti akan melindunginya dari kemarahan sang majikan, dan dia yakin bahwa majikannya akan memaafkannya, karena kepulangannya diantar oleh manusia paling mulia di dunia, Rasulullah saw. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena kepulanganya membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka.
Mereka terus berjalan, hingga sampailah di perkampungan kaum Anshar. "Assalamu'alaikum warahmatullah", sapa Rasulullah saw. Mereka semua terdiam tak menjawab salam, padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi dengan kebahagiaan karena kedatangan Nabi yang mulia. Mereka menganggap salam Rasulullah saw sebagai berkah, sehingga mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah saw memberi salam lagi "Assalamu'alaikum warahmatullah". Namun tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah saw mengulang untuk yang ketiga kalinya, “Assalamu'alaikum warahmatullah”, serentak mereka menjawab “wa’alaikumsalam warrahmatullah”. Rasulullah sangat heran dengan hal tersebut, hingga kemudian menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, " Tidak ya Rasulullah, Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak", jawab mereka. Rasulullah saw melanjutkan, "Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya". Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Rasulullah saw begitu murni, budi pekerti yang indah tampak nyata di hadapan mereka.
Beliau rela menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. dan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, "Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata". Budak itu berterima kasih kepada Rasulullah saw serta bersyukur atas karunia Allah swt atas kebebasan yang ia dapatkan.
Ekspresi Iman, cahaya bagi sesama
Dalam firmanNya, Qur’an surat Al Baqarah:177 “Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber
dari Qatadah, bahwa turunnya ayat ini, sehubungan dengan pertanyaan seorang
laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang "Al-Bir" (kebaikan).
Setelah turun ayat tersebut di atas, Rasulullah saw memanggil kembali orang
itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi
sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah
mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna
Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat ia tetap
iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap
yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara
mengarah ke timur. Hal
tersebut menunjukkan bahwa parameter sebuah kebajikan tidaklah sebatas
melaksanakan ibadah shalat, sebagaimana keyakinan kaum yahudi dan kaum nashara,
melainkan cenderung pada pemaknaan yang lebih luas. Sebagaimana dicontohkan
oleh Rasulullah saw dengan uang delapan dirhamnya. Begitu besar rasa cinta
Rasulullah saw terhadap Rabbnya, sehingga tampak dalam akhlak beliau yang
mulia, berupa kepedulian, kepekaan terhadap kondisi lingkungan disekitarnya. Begitupula
imam hasan al banna memaknai tentang iradah,
bahwa islam menghendaki dalam jiwa seorang muslim hati yang sensitif, sehingga
mampu merasakan kebaikan dan keburukan. Kemampuan dalam memahami apa-apa yang
perlu dilakukan dan ditinggalkan.
Sebagaimana pula ketika Rasulullah saw sedang mengimami
shalat berjamah. Tiba-tiba mendengar seorang bayi yang menangis di barisan
belakang. Rasulullah saw pun segera memendekkan bacaan ayat-ayat Al-Qurannya,
karena beliau memahami bahwa bayi yang menangis itu karena ingin menyusu kepada
ibunya yang kebetulan sedang ikut shalat berjamaah.
Dan sebagaimana pula khalifah umar beserta istrinya yang secara langung
ikut membantu persalinan salah satu
keluarga tidak mampu dari rakyat yang dipimpinnya. Begitulah keimanan yang
sesungguhnya, tak hanya diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, namun
diperlukan adanya sebuah perwujudan tindakan nyata, yaitu dengan menghadirkan
sikap simpati, kepedulian terhadap lingkungan di sekitar kita.
Wujud keimanan terhadap Allah, malaikatNya
, kitab-kitabNya, Rasulullah, hari akhir, serta qadha dan qadhar diantaranya
adalah dengan tidak bersikap acuh terhadap seorang muslim lainnya, "Seorang
muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan
kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya" (HR.
Muslim dan Ibnu Majah)
Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
lainnya dijelaskan, bahkan Allah berkenan memudahkan segala urusannya bagi
mereka yang peduli terhadap kesulitan orang lain, "Siapa yang
menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia,
niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan
siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan
baginya di dunia dan akhirat, Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim
Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong
hambanya selama hambanya menolong saudaranya…”.
Bahkan naungan pada hari kiamat kelak diberikan kepada
mereka yang senantiasa bersimpati terhadap kondisi saudara muslim lainnya
dengan bersedekah,"Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat
adalah sedekahnya” (HR. Ahmad)
Rasulullah saw pun menjadikan akhlak dan kepedulian terhadap tetangga sebagai acuan penilaian
kebaikan seseorang. Beliau bersabda, ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah
adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik
tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya'' (HR Tirmidzi)
Diantara bentuk sebuah kepedulian terhadap saudara muslim yang lain adalah mengingatnya dalam sebuah lantunan doa’, bahkan malaikatpun turut mendo’akan bagi mereka yang bersimpati terhadap saudara muslim lainnya, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Tidak ada seorang muslimpu yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengatahuannya, melainkan malaikat akan berkata ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama’ “.
Dan wujud kepedulian lainnya adalah dengan senantiasa mengingatkan saudara muslim lainnya agar berada dalam kebaikan,"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS.At Taubah:71)
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik r.a pelayan Rasulullah saw,
bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seorang diantara kalian tidak dikatakan
beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya
sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa hadirnya kepedulian, bagaimana caramu mencintai saudaramu?
Dari
Abu Hamzah Anas bin Malik r.a, pelayan Rasulullah saw, bahwa Rasulullah saw
bersabda “Seorang diantara kalian tidak dikatakan beriman sehingga ia
mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dalam syarah hadits arba'in Al Imam
Yahya bin Syarafuddin An Nawawi dijelaskan bahwa hakikat mencintai disini
berarti mencintai segala kebaikan untuk saudara muslim sebagaimana mencintai
kebaikan untuk dirinya sendiri dan membenci segala keburukan untuk saudara
muslim sebagaimana membencinya untuk dirinya sendiri.
Sinergisitas antara keimanan dan kepedualian, mampu menjagaku, dirimu dan dirinya agar tetap berada dalam naungan hidayahNya
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media