“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu.Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas.Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut” [QS. At Thaha : 42-44]
Tiga
tahun sebelum hijrah, Rasulullah saw melakukan perjalanan ke Thaif untuk
mengajak Khabilah Tsaqif, penguasa Thaif, untuk meminta pertolongan dan
perlindungan. Perjalanan ini dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti
Khadijah pada 619 M dan wafatnya Abu Thalib paman Rasulullah saw pada 620 M
Semenjak
meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah yang disegani kaum musyrikin Quraisy,
membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika
warga Kota Thaif mau menerima Rasulullah saw, kota ini mungkin akan menjadi
tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Makkah.
Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat dari kaumnya,
perjalanan Rasulullah saw ke Thaif dilakukan secara diam-diam dengan berjalan
kaki. Di kota ini, Rasulullah saw tinggal selama 10 hari. Namun ternyata
penduduk Thaif melakukan penolakan serta memperlakukan Rasulullah saw dengan
sangat kasar. Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah saw sehingga kakinya
terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membela
dan melindunginya. Namun kepalanya pun terluka akibat terkena lemparan batu.
Akhirnya Rasulullah saw berlindung, bersembunyi di kebun milik 'Utbah bin
Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah seraya memanjatkan doa;
“Ya,
Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan
kerendahan diriku berhadapan dengan manusia.Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi
Maha Penyayang.Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah
pelindungku.Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang
berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh
besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.Aku berlindung pada sinar
cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia
dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan
diriku.Engkau berkenan.Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas
perkenan-Mu.”
Dikisahkan
bahwa, kemudian Malaikat penjaga gunung mengucapkan salam kepada Rasulullah
saw, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan
kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah
mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku
bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”, Dan Rasulullah saw
pun justru mendoakan kaum thaif, “aku menginginkan semoga Allah
berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah
semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun“.
Kelembutan yang terlupakan
Seiring
dengan perkembangan zaman, membawa pada berbagai perubahan yang terjadi pada
unsur-unsur sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi yang
menawarkan penuh dengan kenyamanan, menjadikan setiap kita terlena akan segala
fasilitas yang ada. Kerasnya “tuntutan zaman”, tak pelak menjadikan
setiap pribadi individu jauh dari sosok uswatun hasanah sebagaimana
yang telah dicontohkan Rasulullah
saw. Pribadi dengan tutur kata yang jauh dari sikap santun, pribadi yang
angkuh, penuh kekerasan, berkurangnya rasa simpati maupun empati terhadap
saudara muslim lainnya kini telah menjadi hal yang biasa. Hilangnya pribadi penuh dengan
kelembutan dalam diri yang mengajarkan kesabaran dan kesantunan bisa jadi ikut
andil dalam membawa perubahan sosial budaya.
Sebagaimana
dalam kisah perjalanan Rasulullah saw ke Thaif yang penuh dengan kekerasan dan
penyiksaan, Allah swt memerintahkan untuk tetap menunjukkan sikap santun.
Menunjukkan sikap untuk tetap dalam kelembutan dan kesabaran melalui pribadi
Rasulullah saw, disaat beliau sendiri memiliki kuasa untuk membalas atas sikap
penduduk Thaif terhadap dirinya. Dengan sikap yang penuh kelembutan dan
kesabaranya terhadap sikap penduduk thaif, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan
dan pengakuan Addas, seorang Kristen, budak dari 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah.terhadap kerasulan
Rasulullh saw.
Sikap penuh kelembutan dicontohkan pula oleh Rasulullah saw disaat seorang Arab badui yang membuang hajad di dalam masjid. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, ‘Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini.Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut’. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami [HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284]
Dalam firmanNya, QS. Ali Imran:133-134, Allah mengisyaratkan agar senantiasa
berlaku lembut serta menjadi pribadi pemaaf,
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang
yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”
“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya” [HR. Bukhari dan Muslim]
Dengan
pribadi yang penuh kelembutan, Rasulullah saw mampu menjadikan seorang pengemis tua yang
senantiasa menghinanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan pribadi yang penuh kelembutan, Rasulullah saw mampu
menjadikan seorang pendeta Zaid bin Sa’nah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bahkan Rasulullah saw tetap berlaku lembut disaat nyawa terancam. Suatu ketika seorang musuh bernama Da'thur mendapati Rasulullah saw sedang beristirahat, kemudian dengan sigap Da'thur meletakkan pedangnya tepat di leher Rasulullah saw seraya berkata, "Siapa yang akan menyelamatkan nyawamu dari tanganku?" dan Rasulullah saw menjawab "Allah". Mendengar jawaban Rasulullah saw, Da'thur pun gemetar hingga pedangnya terjatuh dari tangan. Kemudian dengan sigap Rasulullah saw mengambil pedang Da'thur seraya berkata, "Kali ini siapa yang akan menyelamatkanmu dari tanganku?", Da'thur menjawab,"Tak ada siapa pun". Rasulullah saw pun memaafkan Da'thur. Melihat kelembutan serta kasih sayang Rasulullah saw, Da'thur pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu besar potensi kekuatan dibalik sebuah kelembutan.
Begitupun Musa dan Harun
Dalam
QS. Ath Thaha 42-44, Allah swt pun memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Harun
as untuk tetap bertutur kata lembut ketika berhadapan dengan Fir’aun yang
begitu mendurhakai Allah swt,
“Pergilah
kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua
lalai dalam mengingatKu.Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia
telah malampaui batas.Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata
yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut”.
Kembali pada zaman Rasulullah saw yang tak jauh dari berbagai kekerasan, penyiksaan serta penganiayaan, namun hal tersebut tak menjadikannya alasan untuk tak mampu berlaku lemah lembut, sabar dan berlaku santun. Pribadi dengan penuh kelembutan sebagaimana pribadi Rasulullah saw kini mulai memudar, karena keengganan untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan. Pribadi dengan penuh kelembutan yang kini mulai tergantikan dengan sikap yang saling mengancam dan penuh kekerasan.
Tak
ada teladan sebaik Rasulullah saw. Barangsiapa meneladani Rasulullah saw,
niscaya ia akan menjadi teladan.
[QS. Al Ahzab:21]

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media