Langsung ke konten utama
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi"

Pesona Kekuatan Dibalik Kelembutan

 




Oleh : Meylina Hidayanti

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu.Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas.Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut” [QS. At Thaha : 42-44]



Tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah saw melakukan perjalanan ke Thaif untuk mengajak Khabilah Tsaqif, penguasa Thaif, untuk meminta pertolongan dan perlindungan. Perjalanan ini dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti Khadijah pada 619 M dan wafatnya Abu Thalib paman Rasulullah saw pada 620 M

Semenjak meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah yang disegani kaum musyrikin Quraisy, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika warga Kota Thaif mau menerima Rasulullah saw, kota ini mungkin akan menjadi tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Makkah.

Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat dari kaumnya, perjalanan Rasulullah saw ke Thaif dilakukan secara diam-diam dengan berjalan kaki. Di kota ini, Rasulullah saw tinggal selama 10 hari. Namun ternyata penduduk Thaif melakukan penolakan serta memperlakukan Rasulullah saw dengan sangat kasar. Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah saw sehingga kakinya terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membela dan melindunginya. Namun kepalanya pun terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya Rasulullah saw berlindung, bersembunyi di kebun milik 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah seraya memanjatkan doa; 

“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia.Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang.Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku.Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku.Engkau berkenan.Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”

 

Dikisahkan bahwa, kemudian Malaikat penjaga gunung mengucapkan salam kepada Rasulullah saw, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”, Dan Rasulullah saw pun justru mendoakan kaum thaif, “aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun“.

 

Kelembutan yang terlupakan

Seiring dengan perkembangan zaman, membawa pada berbagai perubahan yang terjadi pada unsur-unsur sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi yang menawarkan penuh dengan kenyamanan, menjadikan setiap kita terlena akan segala fasilitas yang ada. Kerasnya “tuntutan zaman”, tak pelak menjadikan setiap pribadi individu jauh dari sosok uswatun hasanah sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Pribadi dengan tutur kata yang jauh dari sikap santun, pribadi yang angkuh, penuh kekerasan, berkurangnya rasa simpati maupun empati terhadap saudara muslim lainnya kini telah menjadi hal yang biasa. Hilangnya pribadi penuh dengan kelembutan dalam diri yang mengajarkan kesabaran dan kesantunan bisa jadi ikut andil dalam membawa perubahan sosial budaya.

Sebagaimana dalam kisah perjalanan Rasulullah saw ke Thaif yang penuh dengan kekerasan dan penyiksaan, Allah swt memerintahkan untuk tetap menunjukkan sikap santun. Menunjukkan sikap untuk tetap dalam kelembutan dan kesabaran melalui pribadi Rasulullah saw, disaat beliau sendiri memiliki kuasa untuk membalas atas sikap penduduk Thaif terhadap dirinya. Dengan sikap yang penuh kelembutan dan kesabaranya terhadap sikap penduduk thaif, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan dan pengakuan Addas, seorang Kristen, budak dari 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi’ah.terhadap kerasulan Rasulullh saw.  

Sikap penuh kelembutan dicontohkan pula oleh Rasulullah saw disaat seorang Arab badui yang membuang hajad di dalam masjid. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, ‘Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini.Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut’. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami [HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284]


Dalam firmanNya, QS. Ali Imran:133-134, Allah mengisyaratkan agar senantiasa berlaku lembut serta menjadi pribadi pemaaf,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”

“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dengan pribadi yang penuh kelembutan, Rasulullah saw mampu menjadikan seorang pengemis tua yang senantiasa menghinanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan pribadi yang penuh kelembutan, Rasulullah saw mampu menjadikan seorang pendeta Zaid bin Sa’nah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bahkan Rasulullah saw tetap berlaku lembut disaat nyawa terancam. Suatu ketika seorang musuh bernama Da'thur mendapati Rasulullah saw sedang beristirahat, kemudian dengan sigap Da'thur meletakkan pedangnya tepat di leher Rasulullah saw seraya berkata, "Siapa yang akan menyelamatkan nyawamu dari tanganku?" dan Rasulullah saw menjawab "Allah". Mendengar jawaban Rasulullah saw, Da'thur pun gemetar hingga pedangnya terjatuh dari tangan. Kemudian dengan sigap Rasulullah saw mengambil pedang Da'thur seraya berkata, "Kali ini siapa yang akan menyelamatkanmu dari tanganku?", Da'thur menjawab,"Tak ada siapa pun". Rasulullah saw pun memaafkan Da'thur. Melihat kelembutan serta kasih sayang Rasulullah saw, Da'thur pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu besar potensi kekuatan dibalik sebuah kelembutan.

  

Begitupun Musa dan Harun

Dalam QS. Ath Thaha 42-44, Allah swt pun memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Harun as untuk tetap bertutur kata lembut ketika berhadapan dengan Fir’aun yang begitu mendurhakai Allah swt, 

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu.Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas.Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut”.

Kembali pada zaman Rasulullah saw yang tak jauh dari berbagai kekerasan, penyiksaan serta penganiayaan, namun hal tersebut tak menjadikannya alasan untuk tak mampu berlaku lemah lembut, sabar dan berlaku santun. Pribadi dengan penuh kelembutan sebagaimana pribadi Rasulullah saw kini mulai memudar, karena keengganan untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan. Pribadi dengan penuh kelembutan yang kini mulai tergantikan dengan sikap yang saling mengancam dan penuh kekerasan.

Tak ada teladan sebaik Rasulullah saw. Barangsiapa meneladani Rasulullah saw, niscaya ia akan menjadi teladan.

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”
[QS. Al Ahzab:21]


Komentar

Popular Posts

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA

Dalam capaian pembelajaran fase D terbaru 2024 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat materi tentang pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Bencana. Dalam materi tersebut, diharapkan siswa memahami upaya bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional maupun global. Berikut uraian materi singkat terkait : SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi pada tahun 2015 sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs merupakan serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, SDGs mem-petakan pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SD...

Ikhtiar sederhana meraih ampunanNya

Gambar diambil dari Pixabay.com Dari Anas bin Malik ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : "Seluruh Bani Adam (Manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat" HR. At Tirmidzi : 2499) "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dansiang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka  minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian " (HR. Muslim) Terdapat satu do'a sederhana, jika kita mengamalkannya, akan mendatangkan ampunan dari Nya. Do'a tersebut dibaca setelah kita selesai membaca tasyahud seusai shalat.   Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin 'Amru Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu'allim dari Abdullah bin Buraidah dari Handlalah bin Ali bahwa Mihjan bin Al Adra' telah menceritakan kepadanya, katanya Mihjan; "Rasulullah shallallahu ...

Bersegeralah Sebelum Pintu itu Tertutup

  Oleh : Meylina Hidayanti “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua, kemudian pada waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya, kecuali Allah akan bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga”   [ HR. Al Baihaqi ] Di Yaman, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yatim, yang tak punya sanak famil i kecuali hanya ibunya yang telah tua renta, lumpuh dan dengan penglihatan yang telah kabur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, dan jika terdapat kelebihan rezeki, ia gunakan untuk membantu tetangganya yang kekurangan. Dia seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, kulitnya kemerah-merahan.Pakaiannya hanya dua helai sudah kusut, yang satu untuk penu...