“Ada
seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Siapakah seorang muslim yang
baik?’,Beliau menjawab, ‘seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat
dari gangguan lisan dan tangannya”’ (HR. Muslim no.64)
Diriwayat
oleh Ibnu Ishaq bahwa begitu keras usaha kaum musyrik untuk mencegah kaum
muslim untuk berhijrah ke Habasyah. Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu
Rabi’ah sebagai utusan kaum musyrik kala itu membawa berbagai macam hadiah
untuk dipersembahkan kepada Raja Najasyi melalui para uskup. Amr bin Al Ash dan
Abdullah bin Abu Rabi’ah mengajukan beberapa alasan agar mereka mengusir kaum
muslimin dari sana. Setelah para uskup menyetujui, para uskup menemui Raja
Najasyi seraya berkata, “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada beberapa
orang bodoh yang telah menyusup ke negeri tuan. Mereka datang sambil membawa
agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengetahuinya secara
persis, sebagaimana tuan. Kami diutus para pembesar kaum mereka, dari
bapak-bapak, paman, dan keluarga mereka untuk menemui tuan, agar tuan berkenan
mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. Sebab mereka lebih berhak terhadap
orang-orang tersebut dan lebih tahu apa yang telah mendorong orang-orang
tersebut mencela dan memaki mereka”.
Namun
Raja Najasyi merasa perlu untuk meneliti lebih detail dan mendengarkan dari
masing-masing pihak sebelum mengambil keputusan. Kemudian Raja Najasyi mengirim
utusan untuk menemui orang-orang muslim dan memerintahkan untuk mendatangkan
mereka ke hadapannya.
Berikut
percakapan antara Raja Najasyi dan Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara
orang-orang muslim :
Raja
Najasyi : “Macam apakah agama
kalian, yang karena agama itu kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian juga
tidak masuk agama kalian serta tidak satupun agama-agama ini?”
Ja’far
: “Wahai Tuan Raja, dulu kami adalah pemeluk agama jahiliyah. Kami
menyembah berhala-hala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutuskan tali
persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat diantara kita memakan yang
lemah.Begitulah gambaran kami dahulu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari
kalangan kami sendiri, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian
dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembahNya
serta meninggalkan penyembahan kami dan bapak-bapak kami terhadap batu dan
patung.Beliau juga memerintahkan kepada kami untuk berkata jujur, melaksanakan
amanat, menjalin hubungan kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga,
menghormati hal-hal yang disucikan dan darah. Beliau melarang kami berbuat
mesum, berkata palsu, mengambil harta anak yatim dan menuduh wanita-wanita
suci.Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata, tidak menyekutukan
sesuatu pun denganNya, memerintahkan kami mengerjakan shalat, mengeluarkan
zakat dan berpuasa.Lalu kami membenarkan, beriman, dan mengikuti beliau atas
apapun dari agama Allah.Lalu kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan
sesuatu denganNya, kami mengharamkan apapun yang diharamkan atas kami,
menghalalkan apapun yang dihalalkan bagi kami.Lalu kaum kami memusuhi kami,
menyiksa kami dan menimbulkan cobaan terhadap agama kami, dengan tujuan untuk
mengembalikan kami kepada penyembahan terhadap patung, tanpa diperbolehkan
menyembah Allah agar kami menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu.
Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena, mempersempit gerak kami dan
menghalangi diri kami dari agama kami, maka kami pun pergi ke negeri tuan dan memilih
tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindungan tuan dan kami
tetap berharap agar kami tidak didzalimi di sisi Tuan, wahai Tuan Raja”
Raja
Najasyi : ”Apakah engkau bisa
membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa Rasulullah?”
Ja’far
: “Ya”
Raja
Najasyi : “Kalau begitu bacakanlah kepadaku”,
Lalu
Ja’far membacakan “Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…” dari surat
Maryam.
Demi
Allah, Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para
uskupnya. Kemudian Raja Najasyi berkata, “Sesungguhnya ini yang dibawa
Isa dan benar-benar keluar dari satu miskyat.Pergilah kalian berdua.Demi Allah
aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan sama sekali tidak”. Kerasnya upaya kaum musyrik untuk
mencegah kaum muslimin hijrah ke Habasyah pun tidak membuahkan hasil.Hingga
pada akhirnya Raja Najasyi mengembalikan seluruh hadiah yang dibawa kedua
utusan kaum musyrik tersebut kepada mereka.
Kesantunan intuisi Berbahasa sebagai
Pengikat Jiwa
Kecerdasan
Ja’far mengurai kalimat dalam menjawab segala rasa keingintahuan Raja Najasyi,
mampu menghantarkan islam pada pintu gerbang kejayaan. Dengan kecerdasan
intuisi dalam berbahasa Ja’far bin Abu Thalib, mampu menaklukkan hati Raja
Najasyi untuk memilih melindungi kaum muslimin dari jeratan kaum kuffar.
Seiring
dengan perubahan sosial budaya, menjadikan sebagian dari kita cenderung
mengalami penurunan kesantunan dalam berbahasa.Seolah kita mulai terlupa, bahwa
kesantunan dalam bahasa adalah pengikat jiwa yang mampu menggetarkan hati orang
yang mendengarkan ataupun membacanya.
Dalam
QS. Az Zumar : 23,“Allah telah menurunkan perkataan yang baik yaitu Al
Qur’an yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karena kulit orang yang takut
kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah…”
“Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…” dari surat Maryam mampu menjadikan Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya, dan semakin bertambah yakin Raja Najasyi untuk melindungi kaum muslimin. Sebagaimana pula Umar bin Khatab sang “Singa Padang Pasir” yang bermaksud membunuh Nabi Muhammad saw kala itu, mampu luruh dan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keindahan ayat-ayat suci Al Qur’an yang ia dengarkan.
Adakalanya intuisi menjadi
tolak ukur…
Kesantunan
intuisi dalam berbahasa sebagai pengikat
jiwa mampu menguatkan kembali bagi jiwa-jiwa yang mulai rapuh, dan kurangnya
intuisi kesantunan dalam berbahasa, mampu menjadikan jiwa yang telah kuat
menjadi rapuh. Adakalahnya intuisi berbahasa dapat menjadi jalan
hidayah serta jalan ke-murtad-an bagi
seseorang.
Sebagaimana pula kisah Ibrahim bin Adham yang di datangi seorang lelaki yang gemar melakukan kemaksiatan. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Ibrahim, aku ini seorang yang suka bermaksiat. Tolong berikan cara yang ampuh untuk menghentikannya”.
Setelah
merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang
kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa”.Tentu saja dengan penuh
rasa ingin tahu yang besar, Jahdar bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu?”
“Syarat
pertama, jika kau melakukan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki
Allah”, ucap Ibrahim.Lelaki itupun mengernyitkan dahinya dan berkata, “Lalu aku
makan dari mana? Bukankah
segala yang berada di bumi ini adalah rizki Allah?”
“Benar”,
jawab Ibrahim dengan tegas.“Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau
memakan rizki-Nya sementara kau terus melakukan maksiat dan melanggar
perintah-perintah-Nya?”
“Baiklah…”,
jawab lelaki itu tampak menyerah.
“Kemudian apa syarat yang kedua?” lanjut Jahdar
“Kalau
kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi Allah”, kata Ibrahim
lebih tegas lagi. Syarat
ini membuat Jahdar lebih kaget lagi.“Apa?Syarat ini lebih berat lagi.Lalu aku
harus tinggal dimana?Bukankah bumi dengan segala isiny ini milik Allah?”
“Benar,
karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizkiNya dan
tinggal di bumiNya, sementara engkau terus bermaksiat?” tanya Ibrahim.
“Ya
kau benar, lalu apa syarat yang ketiga?” lanjut Jahdar
“Syarat
ketiga, Jika kau masih juga bermaksiat kepada Allah, dan masih ingin memakan rizkiNya dan
tinggal di bumiNya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat
olehNya” kata Ibrahim.
“Bagus!
Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan
rizkiNya, tinggal di bumiNya, dan terus melakukan maksiat kepada kepadaNya,
pantaskah kau melakukan semua itu?”, tanya Ibrahim. Ucapan Ibrahim itu membuat
Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.
“Baiklah…lalu
katakanlah syarat yang keempat” lanjut Jahdar
“Syarat
keempat, jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa
engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal shaleh” Jawab
Ibrahim.
Jahdarpun
termenung, tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatannya yang dilakukan
selama ini. Ia kemuadian berkata, “Tidak mungkin semua itu kulakukan!”.
“”Ya
Abdillah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara
apa kau dapat menghindari murka Allah?” Jawab Ibrahim
Tanpa
banyak berkomentar lagi, Jahdarpun bertanya “Apa syarat yang selanjutnya?”
“Yang
terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat
kelak, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”
Lelaki itu
nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh
penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup…cukup! Jangan kau
teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat
ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.
Jahdar menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan
Ibrahin bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua
perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu.
Adakalanya intuisi berbahasa menjadi tolak ukur seberapa jauh ia mengenal RabbNya, dan seberapa dalam ia mengenal kitabnya. Sebagaimana intuisi bahasa dalam Al Qur’an yang begitu indah, santun, bijak, lugas dan tegas.
Dalam HR. Muslim diriwayatkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang muslim yang paling baik?”. Beliau menjawab, “Seseorang yang orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”
Dikisahkan
pula pada suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khattab r.a hendak
mengadu tentang keburukan istrinya. Namun setiba dirumahnya, ia mendengar istri
Umar bin Khattab r.a berkata keras kepadanya. Akhirnya orang tersebut
membatalkan niatnya dan kembali pulang.Ketika lelaki tersebut hendak berbalik
pulang, Umar baru saja keluar dari pintu rumahnya.Umar pun memanggil lelaki
tersebut, dan berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku tentu hendak
menyampaikan berita penting”. Lelaki tersebutpun berterus terang tentang
keinginannya mengadukan keburukan istrinya, namun kemudian mengurungkan niatnya
ketika ia mendengar istri Umar berkata kasar dan Umar diam saja. Mendengar
pengkuan tersebut, Umar tersenyum seraya berkata, “Wahai saudaraku,
istriku telah memasakkan makanan untukku, dan mengasuh anak-anakku tiada
henti-hentinya, maka jika ia membuat satu-dua kesalahan, tak layak kita
mengenangnya,…”. Kesantunan berbahasa Umar bin Khattab dalam kemarahan
istrinya yang ia sampaikan pada lelaki tersebut, mampu meredakan niat lelaki
tersebut dalam melihat keburukan istrinya.
Sebagaimana
pula ketika Allah memerintahkan nabi Musa as dan ditemani oleh nabi Harun as
untuk menemui Fir’aun, Allah memerintahkah untuk tetap menjaga kesantunan dalam
berbahasa, sebagaimana firmanNya dalam QS. At Thaha :43-44,“Pergilah kamu
berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia
ingat dan takut”
"Serulah
manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". [QS. An Nahl:125]
Rasulullah
saw bersabda, "Berikan kemudahan, jangan membuat kesulitan.
Sampaikan kabar gembira, jangan membuat orang lari dari islam". [HR.
Bukhari].
Kesantunan
intuisi dalam berbahasa bukan berarti lemah dan tidak tegas, melainkan dengan sikap
dan cara yang santun dalam menyampaikan disertai dengan bahasa yang lembut,
tidak menghakimi, jujur dan tegas.
Dalam hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Adl bin Hamid dalam tafsirnya, dan Tabrani dalam Mu'jam Al Kabiir Rasulullah saw bersabda, "Katakanlah yang benar itu walaupun pahit". Begitu pula dalam hadits hasan lainnya yang diriwayatkan oleh Hibban dan Al Baihaqi, "Tidak ada shadaqakah yang paling disukai kecuali perkataan yang haq".

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media