Langsung ke konten utama
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi"

Kesantunan Intuisi dalam Berbahasa

 




Oleh : Meylina Hidayanti

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Siapakah seorang muslim yang baik?’,Beliau menjawab, ‘seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”’ (HR. Muslim no.64)




Diriwayat oleh Ibnu Ishaq bahwa begitu keras usaha kaum musyrik untuk mencegah kaum muslim untuk  berhijrah ke Habasyah. Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah sebagai utusan kaum musyrik kala itu membawa berbagai macam hadiah untuk dipersembahkan kepada Raja Najasyi melalui para uskup. Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah mengajukan beberapa alasan agar mereka mengusir kaum muslimin dari sana. Setelah para uskup menyetujui, para uskup menemui Raja Najasyi seraya berkata, “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada beberapa orang bodoh yang telah menyusup ke negeri tuan. Mereka datang sambil membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengetahuinya secara persis, sebagaimana tuan. Kami diutus para pembesar kaum mereka, dari bapak-bapak, paman, dan keluarga mereka untuk menemui tuan, agar tuan berkenan mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. Sebab mereka lebih berhak terhadap orang-orang tersebut dan lebih tahu apa yang telah mendorong orang-orang tersebut mencela dan memaki mereka”.

Namun Raja Najasyi merasa perlu untuk meneliti lebih detail dan mendengarkan dari masing-masing pihak sebelum mengambil keputusan. Kemudian Raja Najasyi mengirim utusan untuk menemui orang-orang muslim dan memerintahkan untuk mendatangkan mereka ke hadapannya.

 

Berikut percakapan antara Raja Najasyi dan Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara orang-orang muslim :

Raja Najasyi        : “Macam apakah agama kalian, yang karena agama itu kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian juga tidak masuk agama kalian serta tidak satupun agama-agama ini?”

Ja’far                  : “Wahai Tuan Raja, dulu kami adalah pemeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala-hala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutuskan tali persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat diantara kita memakan yang lemah.Begitulah gambaran kami dahulu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembahNya serta meninggalkan penyembahan kami dan bapak-bapak kami terhadap batu dan patung.Beliau juga memerintahkan kepada kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanat, menjalin hubungan kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, menghormati hal-hal yang disucikan dan darah. Beliau melarang kami berbuat mesum, berkata palsu, mengambil harta anak yatim dan menuduh wanita-wanita suci.Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya, memerintahkan kami mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat dan berpuasa.Lalu kami membenarkan, beriman, dan mengikuti beliau atas apapun dari agama Allah.Lalu kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu denganNya, kami mengharamkan apapun yang diharamkan atas kami, menghalalkan apapun yang dihalalkan bagi kami.Lalu kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menimbulkan cobaan terhadap agama kami, dengan tujuan untuk mengembalikan kami kepada penyembahan terhadap patung, tanpa diperbolehkan menyembah Allah agar kami menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena, mempersempit gerak kami dan menghalangi diri kami dari agama kami, maka kami pun pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindungan tuan dan kami tetap berharap agar kami tidak didzalimi di sisi Tuan, wahai Tuan Raja”

Raja Najasyi        : ”Apakah engkau bisa membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa Rasulullah?”

Ja’far                     : “Ya”

Raja Najasyi        : “Kalau begitu bacakanlah kepadaku”,

Lalu Ja’far membacakan “Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…”  dari surat Maryam.

Demi Allah, Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya. Kemudian Raja Najasyi berkata, “Sesungguhnya ini yang dibawa Isa dan benar-benar keluar dari satu miskyat.Pergilah kalian berdua.Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan sama sekali tidak”. Kerasnya upaya kaum musyrik untuk mencegah kaum muslimin hijrah ke Habasyah pun tidak membuahkan hasil.Hingga pada akhirnya Raja Najasyi mengembalikan seluruh hadiah yang dibawa kedua utusan kaum musyrik tersebut kepada mereka.

 

Kesantunan intuisi Berbahasa sebagai Pengikat Jiwa

Kecerdasan Ja’far mengurai kalimat dalam menjawab segala rasa keingintahuan Raja Najasyi, mampu menghantarkan islam pada pintu gerbang kejayaan. Dengan kecerdasan intuisi dalam berbahasa Ja’far bin Abu Thalib, mampu menaklukkan hati Raja Najasyi untuk memilih melindungi kaum muslimin dari jeratan kaum kuffar.

Seiring dengan perubahan sosial budaya, menjadikan sebagian dari kita cenderung mengalami penurunan kesantunan dalam berbahasa.Seolah kita mulai terlupa, bahwa kesantunan dalam bahasa adalah pengikat jiwa yang mampu menggetarkan hati orang yang mendengarkan ataupun membacanya.

Dalam QS. Az Zumar : 23,“Allah telah menurunkan perkataan yang baik yaitu Al Qur’an yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karena kulit orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…”

“Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad…”  dari surat Maryam mampu menjadikan Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya, dan semakin bertambah yakin Raja Najasyi untuk melindungi kaum muslimin. Sebagaimana pula Umar bin Khatab sang “Singa Padang Pasir” yang bermaksud membunuh Nabi Muhammad saw kala itu, mampu luruh dan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keindahan ayat-ayat suci Al Qur’an yang ia dengarkan.

 

Adakalanya intuisi menjadi tolak ukur…

Kesantunan intuisi dalam berbahasa sebagai pengikat jiwa mampu menguatkan kembali bagi jiwa-jiwa yang mulai rapuh, dan kurangnya intuisi kesantunan dalam berbahasa, mampu menjadikan jiwa yang telah kuat menjadi rapuh. Adakalahnya intuisi berbahasa dapat menjadi jalan hidayah serta jalan ke-murtad-an bagi seseorang.

Sebagaimana pula kisah Ibrahim bin Adham yang di datangi seorang lelaki yang gemar melakukan kemaksiatan. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Ibrahim, aku ini seorang yang suka bermaksiat. Tolong berikan cara yang ampuh untuk menghentikannya”.

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa”.Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar, Jahdar bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu?”

“Syarat pertama, jika kau melakukan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Allah”, ucap Ibrahim.Lelaki itupun mengernyitkan dahinya dan berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala yang berada di bumi ini adalah rizki Allah?” 

“Benar”, jawab Ibrahim dengan tegas.“Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara kau terus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah-Nya?”

“Baiklah…”, jawab lelaki itu tampak menyerah.

“Kemudian apa syarat yang kedua?” lanjut Jahdar

“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi Allah”, kata Ibrahim lebih tegas lagi. Syarat ini membuat Jahdar lebih kaget lagi.“Apa?Syarat ini lebih berat lagi.Lalu aku harus tinggal dimana?Bukankah bumi dengan segala isiny ini milik Allah?”

“Benar, karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizkiNya dan tinggal di bumiNya, sementara engkau terus bermaksiat?” tanya Ibrahim.

“Ya kau benar, lalu apa syarat yang ketiga?” lanjut Jahdar

“Syarat ketiga, Jika kau masih juga bermaksiat kepada Allah, dan masih ingin memakan rizkiNya dan tinggal di bumiNya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat olehNya” kata Ibrahim.

“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizkiNya, tinggal di bumiNya, dan terus melakukan maksiat kepada kepadaNya, pantaskah kau melakukan semua itu?”, tanya Ibrahim. Ucapan Ibrahim itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah…lalu katakanlah syarat yang keempat” lanjut Jahdar

“Syarat keempat, jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal shaleh” Jawab Ibrahim.

Jahdarpun termenung, tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatannya yang dilakukan selama ini. Ia kemuadian berkata, “Tidak mungkin semua itu kulakukan!”.

“”Ya Abdillah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?” Jawab Ibrahim

Tanpa banyak berkomentar lagi, Jahdarpun bertanya “Apa syarat yang selanjutnya?”

“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat kelak, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup…cukup! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.

Jahdar menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahin bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu.

Adakalanya intuisi berbahasa menjadi tolak ukur seberapa jauh ia mengenal RabbNya, dan seberapa dalam ia mengenal kitabnya. Sebagaimana intuisi bahasa dalam Al Qur’an yang begitu indah, santun, bijak, lugas dan tegas.

Dalam HR. Muslim diriwayatkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang muslim yang paling baik?”. Beliau menjawab, “Seseorang yang orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

 

Dikisahkan pula pada suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khattab r.a hendak mengadu tentang keburukan istrinya. Namun setiba dirumahnya, ia mendengar istri Umar bin Khattab r.a berkata keras kepadanya. Akhirnya orang tersebut membatalkan niatnya dan kembali pulang.Ketika lelaki tersebut hendak berbalik pulang, Umar baru saja keluar dari pintu rumahnya.Umar pun memanggil lelaki tersebut, dan berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku tentu hendak menyampaikan berita penting”. Lelaki tersebutpun berterus terang tentang keinginannya mengadukan keburukan istrinya, namun kemudian mengurungkan niatnya ketika ia mendengar istri Umar berkata kasar dan Umar diam saja. Mendengar pengkuan tersebut, Umar tersenyum seraya berkata, “Wahai saudaraku, istriku telah memasakkan makanan untukku, dan mengasuh anak-anakku tiada henti-hentinya, maka jika ia membuat satu-dua kesalahan, tak layak kita mengenangnya,…”. Kesantunan berbahasa Umar bin Khattab dalam kemarahan istrinya yang ia sampaikan pada lelaki tersebut, mampu meredakan niat lelaki tersebut dalam melihat keburukan istrinya.

 

Sebagaimana pula ketika Allah memerintahkan nabi Musa as dan ditemani oleh nabi Harun as untuk menemui Fir’aun, Allah memerintahkah untuk tetap menjaga kesantunan dalam berbahasa, sebagaimana firmanNya dalam QS. At Thaha :43-44,“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut”

 

"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". [QS. An Nahl:125]

 

Rasulullah saw bersabda, "Berikan kemudahan, jangan membuat kesulitan. Sampaikan kabar gembira, jangan membuat orang lari dari islam". [HR. Bukhari].  

 

Kesantunan intuisi dalam berbahasa bukan berarti lemah dan tidak tegas, melainkan dengan sikap dan cara yang santun dalam menyampaikan disertai dengan bahasa yang lembut, tidak menghakimi, jujur dan tegas. 

 

Dalam hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Adl bin Hamid dalam tafsirnya, dan Tabrani dalam Mu'jam Al Kabiir Rasulullah saw bersabda, "Katakanlah yang benar itu walaupun pahit". Begitu pula dalam hadits hasan lainnya yang diriwayatkan oleh Hibban dan Al Baihaqi, "Tidak ada shadaqakah yang paling disukai kecuali perkataan yang haq".

Komentar

Popular Posts

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA

Dalam capaian pembelajaran fase D terbaru 2024 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat materi tentang pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Bencana. Dalam materi tersebut, diharapkan siswa memahami upaya bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional maupun global. Berikut uraian materi singkat terkait : SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi pada tahun 2015 sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs merupakan serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, SDGs mem-petakan pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SD...

Ikhtiar sederhana meraih ampunanNya

Gambar diambil dari Pixabay.com Dari Anas bin Malik ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : "Seluruh Bani Adam (Manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat" HR. At Tirmidzi : 2499) "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dansiang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka  minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian " (HR. Muslim) Terdapat satu do'a sederhana, jika kita mengamalkannya, akan mendatangkan ampunan dari Nya. Do'a tersebut dibaca setelah kita selesai membaca tasyahud seusai shalat.   Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin 'Amru Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu'allim dari Abdullah bin Buraidah dari Handlalah bin Ali bahwa Mihjan bin Al Adra' telah menceritakan kepadanya, katanya Mihjan; "Rasulullah shallallahu ...

Bersegeralah Sebelum Pintu itu Tertutup

  Oleh : Meylina Hidayanti “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua, kemudian pada waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya, kecuali Allah akan bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga”   [ HR. Al Baihaqi ] Di Yaman, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yatim, yang tak punya sanak famil i kecuali hanya ibunya yang telah tua renta, lumpuh dan dengan penglihatan yang telah kabur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, dan jika terdapat kelebihan rezeki, ia gunakan untuk membantu tetangganya yang kekurangan. Dia seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, kulitnya kemerah-merahan.Pakaiannya hanya dua helai sudah kusut, yang satu untuk penu...