“Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus diri dari Rahmat
Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. Az Zumar:53)
Dari Abu Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri r.a,
sesungguhnya Nabi saw, bersabda,
“Ada seorang (dari generasi) sebelum kalian yang telah
membunuh 99 orang.Dia lalu bertanya tentang orang yang paling alim di dunia
ini. Maka ditunjukkanlah ia kepada seorang rahib (pendeta) dan ia pun
mendatanginya. Kepada rahib tersebut, ia menyatakan telah membunuh 99 orang,
kemudian ia bertanya, “Apakah masih mungkin bagiku utnuk bertaubat?”,
Rahib itu menjawab, “Tidak mungkin!”. Tanpa berfikir panjang, orang ini
pun kemudian membunuh rahib tersebut, hingga genaplah ia telah membunuh 100
orang.
Ia pun melanjutkan perjalanannya seraya mencari orang alim
yang sekiranya dapat membantunya untuk bertaubat. Setelah mendapatkan
informasi, ia pun bergegas mendatangi orang alim tersebut. Kepada orang alim ia
menyatakan bahwa telah membunuh 100 orang, dan ia bertanya, “Apakah mungkin
bagiku untuk bertaubat?”, orang alim menjawab, “Ya, siapa yang dapat
menghalangimu untuk bertaubat. Pergilah ke suatu kampung (menyebutkan suatu
tempat), ditempat itu terdapat sekelompok orang yang rajin beribadah kepada
Allah swt.Beribadahlah bersama mereka, dan jangan kau kembali ke kampong
asalmu”.Maka orang tersebut melanjutkan perjalanannya ke kampung yang
dimaksudnya. Namun, ketika ia mencapai separuh perjalanan, ajal menjemputnya.
Berselisihlah antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat
rahmat berkata, “ia datang bertaubat dengan hatinya
menghadap kepada Allah”, sedangkan malaikat adzab berkata,”ia belum pernah
berbuat kebaikan sedikitpun”.Kemudian datanglah malaikat lainnya dan
berkata, “ukurlah jarak antara kedua kampong tersebut, manakah yang paling
dekat dengan mayatnya, maka disitulah kedudukannya”. Malaikat rahmat
dan adzab kemudian mengukur jarak diantara keduanya, dan
ternyata mayat tersebut lebih dekat dengan perkampungan yang akan ditujunya,
akhirnya mayat tersebutpun diambil oleh malaikat rahmat” [HR. Bukhari, Muslim].
Keyakinan yang
terkikis
Kerasnya usaha manusia dalam
mendekatkan diri kepadaNya akan selalu hadir peran syaitan untuk menggoyahkan
hati. Begitu mudah manusia dalam bermaksiat yang seringkali tidak sebanding dengan usahanya untuk senantiasa bertaubat.
Dari
anas radiyallau’anhu dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Wahai
anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka
akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya
dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit
kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai
anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh
bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka
akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan“ [HR.Tirmidzi]
Sebagaimana kisah panglima
tersebut, kerasnya usaha syaitan dalam mematahkan semangat bertaubat sang
panglima terlihat jelas melalui jawaban sang rahib yang mengecewakan hatinya, menjadikan sang panglima mudah masuk dalam perangkap syaitan dengan mengakhiri hidup sang rahib,
sehingga sang panglima pun telah membunuh orang ke-100 dengan tangannya
sendiri.
Sebagaimana dalam QS. Al-Hijr :
39 , “Iblis berkata : ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan
bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan
maksiat) di muka bumi, dan pasti aku menyesatkan mereka semuanya.’“. Begitu
jelas hasrat syaitan, bahwa ia akan menyesatkan setiap insan. Mengembuskan
keraguan, keputusasaan serta was-was dalam hati adalah sebuah upaya syaitan
dalam menjauhkan hubungan seorang hamba kepada Rabbnya. Maka sikap optimisme terhadap Rahmat Allah wajib ditumbuhkan dalam
jiwa setiap insan beriman, karena seringkali kita kurang yakin akan janji dan
Rahmat Allah.
“…janganlah
kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari Rahmat
Allah hanyalah orang-orang kafir” [QS. Yusuf:87].
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
bertaubat" [QS.Al-Baqarah:
222]
Dalam HR. Muslim 4/2197-2198 no.2865 dijelaskan bahwa,
“Orang yang selalu bertaubat adalah orang yang
senantiasa kembali kepada Allah, kembali kepada Allah setelah bermaksiat
kepadaNya. Kembali untuk melaksanakan perintahNya setelah ia menyelisihi
perintahNya. Setiap dosa itu akan menjauhkan seseorang dari Allah, dan
akan memutuskan hubungannya dengan Rabbnya. Disebutkan dalam hadits Qudsi,
Allah berfirman (artinya), "Sesungguhnya Aku telah menciptakan
hamba-hambaKu semuanya dalam keadaan lurus, namun setan datang kepada mereka,
lalu membelokkan mereka dari Agama mereka".
Sesungguhnya orang yang selamat itu adalah orang yang apabila ia tersesat, niscaya ia langsung kembali kepada Allah, dan jika berdosa niscaya bertaubat.
Allah berfirman, "Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah,
niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [QS.An-Nisaa':
110]
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, niscaya mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni selain daripada Allah?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui" [QS.Ali
Imran: 135]
Dalam sebuah kisah, Al Hasan pernah ditanya perihal pertaubatan seorang muslim,”Tidakkah seorang dari kita merasa malu kepada Tuhannya karena dia memohon ampunan dari dosa-dosanya lalu dia melakukan (dosa-dosa itu) lagi kemudian meminta ampunan kemudian mengulanginya?”, dan Al Hasan menjawab,”Yang dinginkan setan adalah seandainya dia memenangkan ini (berputus asa serta bosan bertaubat) dari kalian, maka janganlah kalian merasa bosan dari meminta ampunan (istighfar)”.
Katakanlah,
“Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” [QS. Az Zumar
:53]
Jangan pernah berputus asa dari
RahmatNya. Sungguh, Allah Maha Menepati JanjiNya
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media