Oleh : Meylina Hidayanti
Diriwayatkan
oleh imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh nasa’i dari anas bin malik r.a :
Ketika
kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw, bersabdalah beliau “Atas dirimu
semua kini datang seorang dari penghuni syurga”. Waktu itu muncul seorang
anshar dengan jenggot sedikit basah bekas air wudlu, sambil menjinjing kedua
sandalnya dengan tangan kirinya. Esok harinya Nabi saw kembali berkata demikian
dan muncul pula orang tersebut seperti itu lagi, muncul pula lelaki itu seperti
sebelumnya.
Tatkala
Nabi saw berdiri, Abdullah bin Amru bin Ash segera mengikuti orang lelaki
tersebut dan berkata kepadanya “Sesungguhnya saya telah bertengkar dengan bapak
saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi
(saudara) mengizinkan saya tinggal dirumah akhi selama tiga hari itu, niscaya
aku akan ikut akhi pulang”, “lelaki itu menjawab “Ya silahkan”, kemudian
Abdullah menceritakan bahwa selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekalipun
ia melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali setiap lelaki itu
berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hingga terbangun
untuk melakukan shalat subuh. Abdullah menambahkan, “Hanya saja saya tidak
mendengarnya berkata selain dengan perkatan yang baik”.
Lewatlah
sudah tiga malam, dan saya pun hampir meremehkan amalnya. Kemudian ku katakan
kepadanya, “wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah terjadi pertengkaran
antara aku dan bapaku, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan
tentangmu tiga kali dengan ucapan, sekarang akan muncul seorang lelaki dari
penghuni syurga, selama tiga kali itu pula engkau muncul, karena itu aku
berusaha menginap dirumahmu untuk melihat apa yang engkau lakukan sehingga aku
bisa mencontohmu, Namun aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang besar, lalu
apa sebabnya engkau bisa mencapai derajad seperti yang dikatakan Rosulullah
tersebut?” laki-laki itu menjawab “ tidak ada yang saya kerjakan selain apa
yang telah engkau perhatikan.” Kata abdullah, ketika dia berpaling
meninggalkannnya, lelaki itu memanggilnya seraya berkata, “Tidak ada yang saya
kerjakan selain apa yang telah engkau perhatikan, tetapi tidak tersimpan
sedikitpun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorangpun dari kaum muslimin
atau menaruh dengki padanya atas kebaikan yang dikaruniakan Allah
kepadanya.Kemudian abdullah berkata, “inikah yang telah mengangkat derajadmu
setinggi itu?”
Kedalaman Hati siapa yang tahu?
Bisa
jadi segala sesuatu yang kita anggap remeh dan biasa saja, namun justru sesuatu
itu memiliki nilai yang lebih dalam pandangan Allah.Bisa jadi baik dalam
pandangan manusia, belum tentu baik pula dalam pandangan Allah.“Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui” (QS.2:216)
Sebagaimana
kisah seorang pelacur yang menjadi penghuni surga dikarenakan telah memberikan
minum seekor anjing yang kehausan. Biasa dalam pandangan manusia, sekedar memberi minum seekor
anjing, namun berbeda dalam pandangan Allah.
Sebagaimana
pula sebuah kisah Rifa’ah bin Zaid dari Bani Dhubaib , salah seorang budak
Rasulluah, yang terkena panah seusai perang khaibar berlangsung. Para sahabat
berkata “Kami senang ia gugur syahid wahai Rasulullah” dan Rasulullah saw
menjawab “Tidak! Demi Zat yang menguasai Muhammad. Sesungguhnya sebuah mantel
akan mengobarkan api neraka atasnya. Mantel itu ia ambil dari harta rampasan
perang Khaibar, yang bukan jatahnya. Para sahabat menjadi takut. Lalu seseorang
datang membawa seutas atau dua utas tali sandal, seraya berkata: Wahai
Rasulullah, aku mendapatkannya pada waktu perang Khaibar. Rasulullah saw.
bersabda: Seutas tali (atau dua utas tali) sandal dari neraka” (Shahih
Muslim No.166). Sebuah kematian yang baik dalam pandangan manusia, ternyata
belum tentu baik dalam pandangan Allah.
Sebuah
pelajaran berharga pula dinasehatkan oleh Abu Syaikh rahimahullah, “jika
engkau banyak shalat, janganlah engkau berbangga dengan prestasi itu, sebab
terkadang orang lain yang engkau anggap banyak berbuat keliru, boleh jadi ia
lebih menepati janji daripada engkau. Jika engkau selalu menepati janji,
janganlah engkau berbangga dengannya, sebab bisa jadi orang lain yang engkau
anggap cela perbuatannya adalah orang yang selalu menjaga silaturahim. Dan jika
engkau kuat menjaga silaturahim, janganlah engkau berbangga karenanya, sebab
bisa jadi orang lain yang kau cela sebagian sifatnya lebih banyak puasanya
darimu”
Inilah yang justru tidak mampu kita
lakukan
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sebagian
dari berprasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan
janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka
memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang" (QS.
49 : 12)
"Memberikan
hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum muslimin
kelihatannya sederhana, tetapi justru itulah yang seringkali sulit kita
lakukan. Mungkin kita mampu berdiri dimalam hari, sujud dan ruku dihadapan
Allah SWT, akan tetapi sulit bagi kita untuk menghilangkan kedengkian kepada
sesama kaum muslimin, hanya karena kita duga memiliki paham yang berbeda, hanya
karena kita fikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda, atau hanya
karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah dan kelebihan itu tidak
kita miliki. "Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan", kata Abdullah bin Amr (Hayat Al
Shahabah, II, 520-521)

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di website kami. Salam smart dari QIFA Smart Media