Langsung ke konten utama
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi"

MANAJEMEN BENCI DAN CINTA

 



Oleh : Meylina Hidayanti


“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah” [HR. At Tarmidz]



Empat abad silam, setiap pagi seorang lelaki pergi menemui seorang pengemis yahudi tua renta, tak bergigi, lumpuh serta buta kedua matanya, untuk melembutkan makanannya. Pengemis itu begitu membenci Islam sebagaimana ia membenci Rosulullah saw.

Dikarenakan begitu besar kebenciannya terhadap Rasulullah, sehingga setiap harinya ia senantiasa mencaci maci Rasulullah saw. Ia memuntahkan kebenciannya kepada Nabi yang datang dari bangsa Arab, bukan Yahudi. Namun dengan lembut Lelaki ini tetap memberikan suap demi suap makanan kepada mulut sang pengemis tua itu. Dan pada setiap kali suapan itu pula, sang pengemis berkata “bunuh Muhammad... bunuh Muhammad” dan berbagai cacian yang terus keluar dari mulutnya. Namun si lelaki ini tetap saja dengan lembut memasukan makanan sesuap demi sesuap ke dalam mulut pengemis tua tersebut, hingga suatu ketika si lelaki tersebut tidak lagi datang menyuapi. 

Hari itu, Abu Bakar Ash Shidiq menggantikan perannya.Suap demi suap makanan di masukkan ke dalam mulut si pengemis. “siapa kau?” pengemis itu terkejut "Engkau pasti bukan orang yang biasa menyuapiku. Orang itu lebih lembut daripada kau” Lanjutnya, Abu Bakar menjawab dengan bertanya,“Engkau tahu siapa yang biasa menyuapimu?" Abu Bakar melanjutkan perkataannya. “Dialah Muhammad, Rasulullah. Kini beliau telah wafat.Maka aku datang menggantikan beliau”.Terhenyaklah si pengemis yahudi itu. Serta merta ia menangis. Air matanya deras mengalir di pipinya. Hingga beberapa saat kemudian, dia pun menyatakan dirinya masuk Islam.

 

Dulu, Kini dan Nanti

“Harapan itu maksudnya adalah Allah mengubah cinta sesudah benci, rasa sayang sesudah berlawanan, dan keakraban sesudah bercerai berai” [Ibnu Katsir].

“Bencilah musuhmu sekedarnya.Karena boleh jadi suatu hari nanti ia akan jadi orang yang kau cintai” [Ali bin Abi Thalib ra]. 

Sungguh, bahwa segala sesuatu terdapat kadarnya, maka janganlah kita berlebihan terhadapnya. ”Jadikan rasa cenderungmu senantiasa wajar” (Ibnul Jauzi). Dengan hadirnya rasa benci ataupun cinta, rasa sayang ataupun bermusuhan, serta keakraban ataupun bercerai berai, mampu membawa kita untuk memahami sebuah proses bahwa segalanya akan senantiasa mengalami perubahan. Sebuah proses perubahan yang tak akan pernah terhenti hingga sang waktu telah terhenti dengan sendirinya. Sebuah proses perubahan yang mengajarkan kepada kita untuk menghindari sikap meng-klaim ataupun justifikasi terhadap orang lain dikarenakan hadirnya rasa kecenderungan dalam diri. Perlu rasanya untuk memahamkan dan menanamkan dalam diri, bahwa rasa kecenderungan itu akan dapat berubah di waktu yang tak ditentukan sebagaimana kisah seorang pengemis tersebut diatas. Sebagaimana pula banyaknya orang-orang Quraisy yang memeluk islam setelah kota mekkah di taklukkan. Sebagaimana pula kisah umar bin khatab yang pada awal mulanya begitu membenci islam dan Rasulullah saw bahkan hampir membunuhnya, namun pada akhirnya ia menjadi salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, yang begitu mencintai islam dan Rasulullah saw.

"Cintailah apa yang engkau cintai dengan seperlunya, siapa tahu ia akan menjadi apa yang engkau benci suatu hari nanti. Bencilah apa yang engkau benci seperlunya. Siapa tahu ia akan engkau cintai suatu hari nanti ”

Tak dapat di pungkiri bahwa rasa kecenderungan itu akan senantiasa hadir, kini tergantung pada bagaimana masing-masing dari kita untuk mampu membingkainya, karena membingkai rasa kecenderungan bukanlah sebuah tindakan serta merta ataupun sekedar ikut-ikutan, diperlukan adanya alasan dan dasar yang kuat. Bencilah sesuatu yang harus di benci dan cintailah sesuatu yang harus di cintai. “Ya Allah, cintakanlah kami akan keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati-hati kami, dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan” (HR.Ahmad)

"Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang diantara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara meraka" (QS. Al Mumtahanah :7)





Komentar

Popular Posts

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA

Dalam capaian pembelajaran fase D terbaru 2024 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat materi tentang pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Bencana. Dalam materi tersebut, diharapkan siswa memahami upaya bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional maupun global. Berikut uraian materi singkat terkait : SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN MITIGASI BENCANA Sustainable Development Goals (SDGs) diadopsi pada tahun 2015 sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs merupakan serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, SDGs mem-petakan pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SD...

Ikhtiar sederhana meraih ampunanNya

Gambar diambil dari Pixabay.com Dari Anas bin Malik ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : "Seluruh Bani Adam (Manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat" HR. At Tirmidzi : 2499) "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dansiang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka  minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian " (HR. Muslim) Terdapat satu do'a sederhana, jika kita mengamalkannya, akan mendatangkan ampunan dari Nya. Do'a tersebut dibaca setelah kita selesai membaca tasyahud seusai shalat.   Telah menceritakan kepada kami  Abdullah bin 'Amru Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu'allim dari Abdullah bin Buraidah dari Handlalah bin Ali bahwa Mihjan bin Al Adra' telah menceritakan kepadanya, katanya Mihjan; "Rasulullah shallallahu ...

Bersegeralah Sebelum Pintu itu Tertutup

  Oleh : Meylina Hidayanti “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua, kemudian pada waktu pagi ia lakukan kebaikan kepada keduanya, kecuali Allah akan bukakan untuknya dua pintu surga. Dan ketika sore hari ia masih melakukan kebaikan kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah bukakan lagi untuknya dua buah pintu surga”   [ HR. Al Baihaqi ] Di Yaman, pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yatim, yang tak punya sanak famil i kecuali hanya ibunya yang telah tua renta, lumpuh dan dengan penglihatan yang telah kabur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, dan jika terdapat kelebihan rezeki, ia gunakan untuk membantu tetangganya yang kekurangan. Dia seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, kulitnya kemerah-merahan.Pakaiannya hanya dua helai sudah kusut, yang satu untuk penu...